Jumat, 01 Juni 2012

ASKEB Teori Trauma Fleksus Brachialis (Secara Umum)


ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY ..... USIA…..
DENGAN TRAUMA FLEKSUS BRACHIALIS
DI RS FARMA MEDIKA
OLEH : TIYA RESTU KHADIJAH
·        Pengkajian
Tanggal / jam pengkajian : …..
Tanggal / jam masuk ruang bayi : …..

A. Biodata
1. Bayi
Nama : Bayi Ny…..
Umur :  
Trauma fleksus bracialis terjadi setelah bayi dilahirkan.
Jenis kelamin : Tidak ada perbedaan antara Laki-laki maupun perempuan
Tanggal lahir : ….
Anak ke : …..
Status anak : …..
No register : ……
2. Orang tua
Nama ibu : …..                                              Nama ayah : .....
Umur : …..                                                    Umur :  .....
Agama : …..                                                  Agama : …..
Pendidikan: …..                                             Pendidikan : …..
Pekerjaan: …..                                              Pekerjaan : …..
Alamat : ……
  • Faktor ibu :
- Ibu sefalo pelvic disease (panggul ibu yang sempit)
- Umur ibu yang sudah tua


B.     Anamnesa Khusus
1.   Keluhan utama
    • Ibu mengatakan bayi sering menangis dan rewel
    • Ibu mengatakan tangan kanan bayinya tidak bereaksi terhadap rangsangan yang diberikan
    • ibu mengatakan telapak tangan kanan bayinya terbalik kearah belakang
    • ibu mengatakan tangan kanan bayinya tidak bisa menggengam dan kedua telapak tangan terkulai lemah
    • Ibu mengatakan tangan kanan bayinya seperti tangan orang lumpuh
2.   Riwayat keluhan utama
Tanda Dan Gejala Bayi Dengan Trauma Fleksus Brakhialis :
 • gangguan motorik pada lengan atas
 • paralisis atau kelumpuhan pada lengan atas dan lengan bawah
 • lengan atas dalam keadaan ekstensi dan abduksi
 • jika anak diangkat maka lengan akan lemas dan tergantung
 • reflex moro negative
 • tangan tidak bisa menggenggam
 • reflex meraih dengan tangan tidak ada
3.      Riwayat antenatal
selama hamil apakah pernah menderita penyakit kronis ataupun menular, berapakah porsi makan tiap hari dan berapa kali melakukan kunjungan  kehamilan, gerakan janin bagaimana, apakah aktif atau tidak, serta berapa kali mendapat imunisasi  TT dan kapan waktu pemberiannya, mendapat tablet tambah darah dan vitamin atau tidak.




4.   Riwayat natal
Berapa minggu usia kehamilan ketika melahirkan dengan ditolong oleh siapa ketika bersalin, lahir spontan atau dengan tindakan, berapa lama waktu persalinannya, keadaan ketubannya bagaimana, apakah ada tanda gawat janin sebelumnya atau tidak.
Trauma Fleksus Brachialis dapat terjadi karena :
·        Partus yang lama akan menyebabkan adanya tekanan tulang pelvis.
·        Trauma pleksus brakialis sering terjadi pada penarikan lateral yang dipaksakan pada kepala dan leher, selama persalinan bahu pada presentasi verteks atau bila lengan diekstensikan berlebihan diatas kepala pada presentasi bokong serta adanya penarikan berlebihan pada bahu.
·        Cedera fleksus brachialis sering terjadi dan ditemukan biasanya terjadi setelah suatu persalinan yang sulit, namun kadangkala sesudah persalinan yang tampaknya mudah, bayi baru lahir dengan mengalami kelumpuhan.
·        Cedera fleksus brachialis dapat terjadi saat prenatal atau selama proses kelahiran saat traksi digunakan di leher. Cedera tersebut dapat terjadi pada kelahiran presentasi bokong yang di perberat dengan distosia bahu.
4.       Riwayat neonatal
·        Nilai APGAR akan membantu dalam, menentukan tingkat keseriusan dari depresi bayi baru lahir yang terjadi serta langkah segera yang akan diambil. Hal yang perlu dinilai antara lain warna kulit bayi, frekuensi jantung reaksi terhadap rangsangan, aktivitas tonus otot, dan pernapasan bayi.
Pada bayi dengan trauma fleksus brachialis menangis kuat, kulit kemerahan pergerakan kaki aktif tetapi pergerakan salah satu lengan tidak ada
·        BB waktu Lahir : normalnya 2500-4000 gram.
Yang paling sering terjadi, pada kasus dengan persentasi kepala, janin yang menderita trauma ini memiliki ukuran khas abnormal yang besar, yaitu dengan berat 4000 gram atau lebih.
·        Panjang badan diukur dari puncak kepala sampai tumit pada bayi cukup bulan normalnya 48-53 cm. terkadang agak sulit dilakukan padabayi cukup karena adanya molase, ekstensi lutut tidak sempurna. Bila panjang badan kurang dari 45 cm atau lebih dari 55 cm perlu dicermati adanya penyimpangan kromosom.
·        Lingkar kepala diukur dangan meteran, mulai dari bagian depan kepala (diatas alis atau area frontal) dan. area occipital disebut oksipitofrontalis yang merupakan diameter terbesar. Lingkar kepala normalnya 31-35,5 cm pada bayi cukup bulan.
Ø      Ukuran muka belakang
o       Diameter sub occipito bregmatika 9,5 cm
o       Diameter sub occipito frontalis 11 cm
o       Diameter fronto occipitalis 12 cm
o       Diameter mento occipitalis 13,5 cm
o       Diameter sub mento bregmatika 9,5 cm
Ø      Ukuran melintang
o       Diameter biparietalis 9 cm
o       Diameter bitemporalis 8 cm
Ø      Ukuran lingkaran
o       Circumferensia suboccipito bregmatika 32 cm
o       Circumferensia fronto occipitalis 34 cm
o       Circumferensia mento occipitalis 35 cm
·        Lingkar dada pada bayi cukup bulan normalnya 30,5-33 cm. sekitar 2cm lebih kecil dari lingkar kepala. Pengukuran dilakukan tepat pada garis bawah dada. Bila panjang badan kurang dari 30 cm perlu dicurigai adanya premature.
5.      Kebutuhan Bayi Baru Lahir
a.       Pemberian nutrisi
Ø      Berikan asi seserig keinginan bayi atau kebutuhan ibu. Frekuensi menyusui setiap 2-3 jam, atau sewaktu-waktu saat bayi menangis, dan berhati-hati, karena adanya luka pada lengan bayi.
Ø      bayi mendapat cukup colostrum selama 24 jam. Colostrum memberikan zat perlindungan terhadap infeksi dan membantu pengeluaran mekonium. (hal ini akan terhambat karena adanya luka)
Ø      Berikan ASI saja sampai umur 6 bulan

b.      Mempertahankan kehangatan tubuh bayi
Ø      Suhu ruangan setidaknya 18 - 21ºC
Ø      Jika bayi kedinginan, harus didekap erat ke tubuh ibu
Ø      Jangan menggunakan alat penghangat buatan di tempat tidur (misalnya botol berisi air panas)
Ø      hindari memandikan min. 6  jam/min suhu 36,5 C
Ø      bungkus bayi dengan kain yg kering & hangat, kepala bayi harus tertutup
Ø      hindarkan tangan bayi agar tidak tertindih badan bayi.
c.       Mencegah infeksi
Ø      Cuci tangan sebelum memegang bayi dan setelah menggunakan toilet untuk BAK/BAB
Ø      Jaga tali pusat bayi dalam keadaan bersih, selalu dan letakkan popok di bawah tali pusat. Jika tali pusat kotor cuci dengan air bersih dan sabun. Laporkan segera ke bidan jika timbul perdarahan, pembengkakan, keluar cairan, tampak merah atau bau busuk.
Ø      Ibu menjaga kebersihan bayi dan dirinya terutama payudara dengan mandi setiap hari
Ø      Muka, pantat, dan tali pusat dibersihkan dengan air bersih , hangat, dan sabun setiap hari.
d.      Aktifitas
Menangis pada bayi berarti berkomunikasi dan bisa menunjukkan rasa lapar, nyeri, keinginan untuk diperhatikan, atau rasa tidak puas. Tangisan karena lapar biasanya keras dan lama tidak berhenti sampai diberi makan, tangisan karena nyeri memiliki nada yang lebih tinggi dan melengking, menangis karena merasa tidak puas bernada lebih rendah dan memiliki intensitas yang lebih rendah dan bervariasi. Bayi dengan fraktur brakhialis cenderung menangis dan  rewel karena ketidaknyamanan kondisi tubuhnya. Dan tidak dapat bergerak aktif seperti bayi normal yang sehat.
e.       Ekstremitas atas
lengan lengan bawah, atas dan tangan, menyebabkan mati rasa, kesemutan, nyeri, kelemahan, gerakan terbatas, atau bahkan kelumpuhan. kelemahan otot-otot fleksor pada sendi siku (m.biceps dan m.brachialis) yang menyebabkan ekstremitas dalam posisi adduksi, rotasi ke arah medial dengan ekstensi pada sendi siku.
f.        Eliminasi
Baik urine dan mekonium keluar 24 jam pertama, mekonium bewarna hitam kecoklatan.
Untuk bayi normal frekuensi berkemih 6-8 kali perhari dan BAB 3 kali perhari.
g.       Bounding attachment
Ikatan antara ibu dan bayi dalam bentuk kasih sayang dan belaian. Perkembangan bayi normal sangat tergantung dari respon kasih saying antara ibu dengan bayi yang dilahirkan yang bersatu dalam hubungan psikologis dan fisiologis. Interaksi yang menyenangkan misalnya sentuhan pada anggota tubuh bayi, tatapan mata antara ibu dan bayi. (Suherni, perawatan masa nifas, 64:2009)
h.       Pemberian vitamin K
·        untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi vit. K
·        Bayi cukup bulan/normal 1 mg/hari peroral selama 3 hari
·        Bayi berisiko 0,5mg – 1mg perperenteral/ IM
i.         Memberi Obat Tetes atau Salep Mata
setiap bayi barulahir perlu diberi salep mata sesudah lima jam. bayi lahir. Pemberian obat mata cloramphenikol 0,5% dianjurkan untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual).
j.        Pemberian imunisasi
Jenis imunisasi yang diberikan disesuaikan dengan usia dan keadaan bayi. Imunisasi yang diberikan pada bayi usia 0-7 hari adalah imunisasi Hepatitis B, manfaat imunisasi ini adalah Mencegah penyakit hepatitis B yang menyerang hati (liver); berakhir menjadi sirosis (hati menciut) dan kanker hati, diberikan ketika Segera setelah lahir, diupayakan dalam 12 jam pertama. Diberikan minimal 3 kali dalam rentang waktu 6 bulan, Disuntikkan di paha. Catatan: Diberikan tanpa memandang status ibu (pernah terinfeksi atau belum), Tak ada obat spesifik untuk menangani penyakit ini.

C.     Pemeriksaan Fisik
1.   Keadaan umum
Kesadaran        : mengalami penurunan atau tidak
Dinilai tangisannya, tonus otot, dan gerakan dari bayi, aktif atau tidak
TTV:
§         Suhu                 : 36,5ºc-37ºc
§         Nadi                 : pada menit menit pertama ± 180 x/menit lalu menurun 120 – 140 x/menit
§         Pernapasan       : pada menit menit pertama ± 140 x/menit dan sampai pada 40-60 x/menit.

2.   Pemeriksaan fisik secara sistematis
·        Kepala
Lakukan inspeksi daerah kepala, lihat apakah ada molase, Caput succadenum dan chepal hematoma, perdarahan ataukelainan lainnya.
·        Muka
Lihat kesimetrisannya, warna kemerahan atau kebiruan, adanya ptikie atau tidak.
·        Mata
Lihat kedua mata bayi apakah kedua mata tampak normal dan apakah bergerak bersama, lakukan pemeriksaan dengan melakukan penyinaran pada pupil bayi. Jika disinari, keduamata mengecil berarti dalam keadaan normal. Selanjutnya lihat sclera dan konjungtivanya.
·        Mulut
Lihat warna mulut, ada tanda hidrasi atau tidak, apakah ada kelainan bawaan atau tidak.
·        Hidung
Pertama yang kita lihat apakah bayi dapat bernapas dengan lancar tanpa hambatan, kebersihan hidung, apakah ada pengeluaran atau tidak.
·        Telinga
Lihat kebersihan telinga, apakah ada kaluaran atau tidak, keadaan tulang rawan dan daun telinga, kesesuaian posisi mata dan telinga
·        Kulit
Pada kulit yang perlu diperhatikan adalah verniks, warna,pembengkakan atau bercak-bercak hitam dan kemerahan seperti tanda lahir.
·        Leher/ Tenggorokan
Periksa leher apakah ada pembengkakan dan benjolan.Pastikan untuk melihat apakah kelenjar thyroid bengkak, hal ini merupakan suatu masalah pada BBL.
·        Dada
Yang diperiksa adalah bentuk dari dada, simetris atau tidak, puting, bunyi napas dan bunyi jantung.
·        Perut GIT
Pada perut yang diperhatikan adalah bentuk dari perut bayi, lingkar perut, penonjolan sekitar tali pusat ketika bayimenangis, perdarahan pada tali pusat, dinding perut lembek pada saat bayi tidak menangis dan benjolan yang terlihatpada perut bayi.
·        Punggung
Simetris atau tidak, apakah ada benjolan abnormal atau tidak, apakah ada pembengkakan ataupun cekungan.
·        Genetalia
Pada bayi laki-laki yang harus diperiksa adalah normalnyadua testis dalam skrotum kemudian apakah pada ujungpenis terdapat lubang. Pada bayi perempuan yang harusdiperiksa adalah normalnya labia mayora dan minora, pada vagina terdapat lubang, pada uretra terdapat lubang danterdapat klitoris
·        Ekstremitas atas dan bawah
Yang dilakukan adalah melihat gerakan bayi apakah aktif atau tidak kemudian menghitung jumlah jari
Pada bayi dengan fraktur brakhialis :
1)    Gangguan motorik lengan atas
2)    Lengan atas dalam kedudukan ekstansi dan abduksi
3)    Jika anak diangkat maka lengan akan lemas tergantung
4)    Refleks moro negatif
5)    Hiperekstensi dan fleksi pada jari-jari
6)    Refleks meraih dengan tangan tidak ada
7)    Paralisis dari lengan atas dan lengan bawah             
Luka pada pleksus brakialis mempengaruhi saraf memasok bahu Lengan bawah, atas dan tangan, menyebabkan mati rasa, kesemutan, nyeri, kelemahan, gerakan terbatas, atau bahkan kelumpuhan kelemahan otot-otot fleksor pada sendi siku (m.biceps dan m.brachialis) yang menyebabkan ekstremitas dalam posisi adduksi, rotasi ke arah medial dengan ekstensi pada sendi siku.
Yang perlu diperiksa adalah gerakan kaki, bentuk simetris kaki, panjang kedua kaki dan jumlah jari pada kaki.
·        Anus
Yang perlu diperiksa adalah keadaan anus, apakah anus berlubang atau tidak, apakah ada kelainan lain pada anus atau tidak.
3.   Pemeriksaan Reflek
a.       Refleks melangkah
Bila tubuh bayi dipegang pada bagian bawah ketiaknya dalam posisi tegak (pastikan kepalanya tertopang dengan baik!), lalu kakinya menyentuh bidang yang datar, secara otomatis si kecil akan meluruskan tungkainya seolah-olah hendak berdiri. Begitu tubuhnya dimiringkan ke depan, kakinya akan bergerak seakan-akan ingin melangkah.
b.      Refleks mencari puting (rooting)
Begitu sudut bibir dan pipi bayi disentuh dengan tangan Anda, si kecil akan langsung memiringkan kepalanya ke arah datangnya sentuhan dengan mulut yang membuka.
Catatan: Bila pipinya bersentuhan dengan payudara Anda, ia akan langsung memiringkan kepalanya dan mengarahkan mulutnya untuk mendapat ASI.

c.       Refleks menghisap
Bila bibirnya disentuh dengan ujung jari Anda, secara otomatis bayi akan membuka mulutnya dan mulai menghisap.
Catatan: Ketika puting susu masuk ke dalam mulutnya, ia akan langsung menghisap ASI. Pada bayi dengan oral trush akan kesulitan untuk menghisap karena ada lesi pada rongga mulutnya.
d.      Reflek menelan
Dengan adanya air susu yang ada dimulutnya otomatis bayi akan dengan cepat menelan air susu yang ada dalam mulutnya.
pada bayi dengan oral trush reflek ini tidak terlalu tampak karena gangguan kenyamanan pada mulutnya sehingga bayi tidak mau / malas untuk minum.
e.       Refleks menggenggam (babinski)
Kalau jari Anda diletakkan di tengah telapak tangan atau di bawah jari kakinya, secara otomatis ia akan menekuk dan mengerutkan jari-jarinya seolah-olah ingin menggenggam atau menjepit dengan erat.
(pada bayi dengan paralisis klumpke Disini terdapat kelemahan otot-otot freksor pergelangan tangan, sehingga bayi kehilangan refkes mengepal).
f.        Refleks morro
Bila Anda memukul keras-keras atau menarik alas tidurnya serta mengangkat dan menurunkan tubuhnya secara mendadak, maka kedua tangan serta kakinya akan merentang dan menutup lagi. Bersamaan dengan itu, jemarinya pun menggenggam. Pada bayi dengan trauma fleksus bracialis Reflek morro negative.
g.       Refleks leher asimetrik tonik/Tonic neck
Refleks ini memang agak sulit terlihat. Meski begitu, bisa Anda amati. Caranya : Baringkan si kecil, lalu miringkan kepalanya ke kiri misalnya. Nah, tangan kiri bayi Anda akan segera merentang lurus ke luar, sedangkan tangan kanannya akan menekuk ke arah kepalanya.
Catatan: Refleks ini paling jelas terlihat saat si kecil berusia 2 bulan, namun akan menghilang saat usianya 5 bulan. Pada bayi dengan trauma fleksus brachialis reflek tonic neck negative.
4. Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan radiografi
1.    Foto vetebra vertical untuk mengetahui apakah ada fraktur pada vertebra vertical
2.    Foto bahu untuk mengetahui apakah ada fraktur scapula, klavekula dan hemerus
·        EMG – NVC
1.      Pemeriksaan NCV untuk mengetahui system motorik dan sensorik, kecepatan hantar saraf serta latensi distal. SNAPs (sensory nerve action potentials) berguna untuk membedakan lesi preganglionic atau lesi postganglionic. Pada lesi postganglionic, SNAPs tidak didapatkan tetapi positif pada lesi preganglionic.
2.      Pemeriksaan EMG dengan jarum pada otot dapat tampak fibrilasi, positive sharp wave (pada lesi axonal), amplitudo dan durasi. SSEP (Somatosensory evoked potensials). Berguna untuk membedakan lesi proksimal misalnya pada root avulsion
·        MRI dan CT SCAN
Untuk melihat detail struktur anatomi dan jaringan lunak saraf perifer.

II.    DIAGNOSA
Bayi Ny….. usia….. dengan trauma fleksus brachialis
Masalah     :  -
Kebutuhan  : -
Data subyektif :
·        Ibu mengatakan melahirkan bayinya pada tanggal ….. di ….. Penolong persalinan …. . Berat lahir …. Panjang lahir …..
·        Ibu mengatakan bayi sering menangis dan rewel
·        Ibu mengatakan tangan kanan bayinya tidak bereaksi terhadap rangsangan yang diberikan
·        ibu mengatakan telapak tangan kanan bayinya terbalik kearah belakang
·        ibu mengatakan tangan kanan bayinya tidak bisa menggengam dan kedua telapak tangan terkulai lemah
·        Ibu mengatakan tangan kanan bayinya seperti tangan orang lumpuh




Data Obyektif :
·        Kesadaran  : mengalami penurunan atau tidak
·        TTV:
- Suhu              : dalam batas normal 36,5-37,50C
- Nadi              : pada menit menit pertama ± 180 x/menit lalu menurun 120 – 140 x/menit
- Pernapasan    : pada menit menit pertama ± 140 x/menit dan sampai pada 40-60 x/menit.
·        Pemeriksaan Fisik
Ekstremitas atas
Yang dilakukan adalah melihat gerakan bayi apakah aktif atau tidak kemudian menghitung jumlah jari
Pada bayi dengan trauma fleksus brachialis :
1)    Gangguan motorik lengan atas
2)    Lengan atas dalam kedudukan ekstansi dan abduksi
3)    Jika anak diangkat maka lengan akan lemas tergantung
4)    Refleks moro negatif
5)    Hiperekstensi dan fleksi pada jari-jari
6)    Refleks meraih dengan tangan tidak ada
7)    Paralisis dari lengan atas dan lengan bawah 
Luka pada pleksus brakialis mempengaruhi saraf memasok bahu Lengan bawah, atas dan tangan, menyebabkan mati rasa, kesemutan, nyeri, kelemahan, gerakan terbatas, atau bahkan kelumpuhan kelemahan otot-otot fleksor pada sendi siku (m.biceps dan m.brachialis) yang menyebabkan ekstremitas dalam posisi adduksi, rotasi ke arah medial dengan ekstensi pada sendi siku.





  • Pemeriksaan Reflek
a.       Refleks morro
Bila Anda memukul keras-keras atau menarik alas tidurnya serta mengangkat dan menurunkan tubuhnya secara mendadak, maka kedua tangan serta kakinya akan merentang dan menutup lagi. Bersamaan dengan itu, jemarinya pun menggenggam. Pada bayi dengan trauma fleksus bracialis Reflek morro negative.
b.      Refleks leher asimetrik tonik/Tonic neck
Refleks ini memang agak sulit terlihat. Meski begitu, bisa Anda amati. Caranya : Baringkan si kecil, lalu miringkan kepalanya ke kiri misalnya. Nah, tangan kiri bayi Anda akan segera merentang lurus ke luar, sedangkan tangan kanannya akan menekuk ke arah kepalanya.
Catatan: Refleks ini paling jelas terlihat saat si kecil berusia 2 bulan, namun akan menghilang saat usianya 5 bulan. Pada bayi dengan trauma fleksus brachialis reflek tonic neck negative.
·        Pemeriksaan Penunjang
    Pemeriksaan radiografi
1.    Foto vetebra vertical untuk mengetahui apakah ada fraktur pada vertebra vertical
2.    Foto bahu untuk mengetahui apakah ada fraktur scapula, klavekula dan hemerus
·    EMG – NVC
3.      Pemeriksaan NCV untuk mengetahui system motorik dan sensorik, kecepatan hantar saraf serta latensi distal. SNAPs (sensory nerve action potentials) berguna untuk membedakan lesi preganglionic atau lesi postganglionic. Pada lesi postganglionic, SNAPs tidak didapatkan tetapi positif pada lesi preganglionic.
4.      Pemeriksaan EMG dengan jarum pada otot dapat tampak fibrilasi, positive sharp wave (pada lesi axonal), amplitudo dan durasi. SSEP (Somatosensory evoked potensials). Berguna untuk membedakan lesi proksimal misalnya pada root avulsion
·    MRI dan CT SCAN
Untuk melihat detail struktur anatomi dan jaringan lunak saraf perifer.
III. INTERVENSI
Tujuan Jangka Pendek
Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama ± 1 jam diharapkan ibu mengerti dengan kondisi anaknya saat ini mengalami trauma fleksus brakhialis, penjelasan tentang trauma fleksus brakhialis serta penanganan awal trauma fleksus brakhialis sudah dilakukan dengan Kriteria hasil:
·        ibu dapat menjelaskan kembali tentang kondisi bayinya saat ini dengan trauma fleksus brakhialis.
·        ibu dapat menjelaskan kembali tentang penyebab, penanganan dan komplikasi dari trauma fleksus brakhialis
·        informed consent tindakan yang dilakukan sudah disetujui/di tandatangani oleh orang tua

Tujuan Jangka Panjang
Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama ± 2 minggu diharapkan kondisi bayi membaik, tumbuh kembang bayi dapat berjalan normal dengan kriteria hasil :
·        Keadaan umum baik
·        Kesadaran komposmentis
·        TTV dalam batas normal :
                  - Suhu  36,5-37,5 ̊c
                  - Nadi 120-140 x/menit
                  - Pernapasan 40-60 x/menit
·        Ekstremitas atas : Lengan bayi tidak mengalami keterbatasan gerak
·        Reflek morro dan Reflek tonic neck positive
·        Tidak Terjadi tanda-tanda bahaya atau komplikasi pada bayi dengan trauma fleksus brachialis





Rencana Tindakan :
1)             Jelaskan pada ibu tentang kondisi bayinya saat ini
          R/ Informasi yang cukup dapat mengurangi kecemasan ibu
2)             Jelaskan pada ibu tentang penyebab, penanganan dan komplikasi yang mungkin ditimbulkan dari bayi dengan fraktur brakhialis.
R/ Informasi yangcadekuat dapat dapat menambah pengetahuan ibu dan ibu lebih kooperatif
3)             Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk penanganan awal/pengobatan trauma fleksus brachialis
R/ Diluar kewenangan bidan
4)             Lakukan penanganan awal pada trauma fleksus brakhialis
R/ Mencegah terjadinya komplikasi
5)             Mengajarkan ibu cara perawatan bayi dengan trauma fleksus brakhialis
R/ Memandirikan ibu melakukan perawatan di rumah

III. IMPLEMENTASI
1.      Menjelaskan pada ibu tentang kondisi bayinya saat ini mengalami trauma pada fleksus brachialix
2.      Menjelaskan pada ibu tentang penyebab, penanganan, dan komplikasi yang mungkin ditimbulkan dari bayi dengan fraktur brakhialis.
Luka pada pleksus brakialis mempengaruhi saraf memasok bahu, lengan lengan bawah, atas dan tangan, menyebabkan mati rasa, kesemutan, nyeri, kelemahan, gerakan terbatas, atau bahkan kelumpuhan ekstremitas atas, cedera pleksus brakialis terjadi selama kelahiran. Bahu bayi mungkin menjadi dampak selama proses persalinan, menyebabkan saraf pleksus brakialis untuk meregang atau robek.
Pada bayi dengan trauma fleksus brachialis terjadi :
1)    Gangguan motorik lengan atas
2)    Lengan atas dalam kedudukan ekstansi dan abduksi
3)    Jika anak diangkat maka lengan akan lemas tergantung
4)    Refleks moro negatif
5)    Hiperekstensi dan fleksi pada jari-jari
6)    Refleks meraih dengan tangan tidak ada
7)    Paralisis dari lengan atas dan lengan bawah           
80% pasien dengan kelahiran dengan trauma pleksus brakialis sembuh secara spontan. Pembedahan dapat membantu banyak sisanya.
Komplikasi yang di timbulkan : Contracture bahu, siku, atau pergelangan tangan
3.      Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk penanganan awal/pengobatan trauma fleksus brachialis
4.      Lakukan penanganan awal pada trauma fleksus brakhialis
  • Immobilisasi parsial dan penempatan lengan yang sesuai untuk mencegah terjadinya kontraktur, immobilisasi lengan yang lumpuh dalam posisi lengan atas abduksi 90̊, siku fleksi 90̊ disertai supinasi lengan bawah dan pergelangan tangan dalam ekstensi, selain 12 jam sehari, disertai massege dan latihan gerak. Atau penaggulangannya dengan jalan meletakkan lengan atas dalam posis abduksi 90̊ dan putaran keluar. Siku berada dalam fleksi 90̊ disertai supinasi lengan bawah dengan ektensi pergelangan dan telapak tangan menghadap kedepan.
  • Beri penguat atau bidai selama 1-2 minggu pertama kehidupannya. Caranya : letakkan tangan bayi yang lumpuh disamping kepalanya yaitu dengan memasang perban pada pergelangan tangan bayi kemudian dipanitikan dengan bantal atau seprei disamping kepalanya
5.      Mengajarkan ibu cara perawatan bayi dengan trauma fleksus brakhialis
Orang tua harus dianjurkan untuk sebisa mungkin menghindari menyentuh ekstremitas yang tekena selama minggu pertama karena adanya nyeri, jangan terlalu sering menggendong bayi, serta tempatkan bayi pada posisi yang aman dan nyaman.
sehingga mereka dapat merencanakan ke depan. Jelaskan Kemungkinan kontraktur, sehingga orang tua akan termotivasi untuk melanjutkan latihan peregangan.





IV.  VALUASI
S : ibu mengatakn :
- Mengerti dengan kondisi anaknya saat ini yang mengalami trauma fleksus brakhialis
- Mengerti tentang penyebab, penanganan, dan komplikasi dari trauma fleksus brakhialis
-  Mengerti cara perawatan bayi dengan trauma fleksus brakhialis
O : - Memantau TTV bayi
- Melaksanakan terapi yang telah diadviskan oleh dokter
A : Penanganan awal bayi dengan fraktur brakhialis sudah dilakukan
P :  - Lanjutkan pemantauan TTV
- Motivasi ibu untuk merealisasikan apa yang telahelaskan oleh bidan
- Anjurkan untuk kontrol ulang 1 minggu lagi atau jika sewaktu-waktu ada keluhan
- Lakukan kolaborasi dengan dokter apabila terdapat komplikasi berlanjut







  Pemberi Asuhan

 (……………….)





CATATAN PERKEMBANGAN
Disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dan hasil dari pemberian terapi
S :  Ibu mengatakan hari ini jadwalnya untuk kontrol bayinya sudah tidak rewel.
O:        - Keadaan umum baik
- TTV dalam batas normal   Suhu 36,5-37,5 ̊ c, Nadi 120-140 x/menit
Pernapasn 40-60 x/menit
- Ekstremitas atas : tidak terdapat keterbatasan gerak
A : Bayi dengan trauma fleksus brakhialis sudah tertangani
P :        - Motivasi ibu untuk menyusui bayinya sesuai kebutuhan
- Motivasi ibu untuk selalu menjaga personal hygiene dirinya dan bayinya
- Motivasi  ibu untuk memenuhi kebutuhan bayinya







Pemberi Asuhan

 (…………….....…)
     










Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar