Jumat, 01 Juni 2012

KPAP (Kartu Perkembangan Anak PrasekoLah)


Tugas Asuhan Balita
“ KPAP ”







DISUSUN OLEH :
Tiya Arisma         (2010.1216)



AKADEMI KEBIDANAN
SITI KHODIJAH MUHAMMADIYAH SEPANJANG
Jl. Raya Rame Pilang No.04 Wonoayu-Sidoarjo
TAHUN AJARAN 2011-2012

KPAP (Kuesioner Perilaku Anak Prasekolah)

1. Pengertian
KPAP adalah sekumpulan kondisi-kondisi perilaku yang digunakan sebagai alat untuk mendeteksi secara dini kelainan-kelaian perilaku anak prasekolah.
           KPAP adalah sekumpulan kondisi-kondisi perilaku yang digunakan sebagai alat untuk mendeteksi secara dini kelainan-kelainan perilaku anak prasekolah, sehingga dapat segera dilakukan tindakan untuk mengantisipasinya. KPAP diberikan kepada anak usia prasekolah atau 3-6 tahun. Dalam KPAP terdapat 30 perilaku yang ditanyakan kepada orang tua atau pengasuh anak. Jika didapatkan hasil nilai lebih atau sama dengan sebelas, maka anak perlu dirujuk.
2. Tujuan
Adapun tujuan dari KPAP yaitu ;
Untuk mengetahui ada tidaknya kelainan perilaku anak secara dini sehingga tindakan tepat dapat segera dilakukan.

3. Prosedur KPAP
a. Cara menggunakan KPAP
Dengan mengajukan 30 pertanyaan pada orang tua/pengasuh à oleh kader, orang tua dan guru.
b. Cara menilai KPAP
Berikan nilai untuk setiap jawaban sesuai data perilaku anak yaitu :
Ø Tidak terdapat (T) = 0
Ø Kadang – kadang terdapat (K) = 1
Ø Sering terdapat (S) = 2
Jumlah nilai jawaban dari data perilaku anak
Apabila jumlah nilai < 11 =" tidak"> 11 = anak perlu dirujuk

4. Interpretasi KPAP
a) Petunjuk
- Kuesioner ini berisi 30 perilaku anak yang ditanyakan kepada orang tua atau diisi sendiri oleh orang tua untukmendeteksi didni kelainan perilaku anak pra sekolah.(3-6)
- Orang tua dapat menjawab ;
o Tidak pernah (nilai 0 )
o Kadang-kadang (nilai 1)
o Sering (nilai 2 ) sesuai dengan perilaku anak sehari-hari.
- Jika jumlah seluruh nilai >11, maka anak perlu dirujuk sedangkan jika jumlah nilai

PERKEMBANGAN ANAK PRASEKOLAH
         Beberapa aspek perkembangan yang dialami pada masa prasekolah pada umunya merupakan lanjutan dari perkembangan yang telah ada sejak bayi. Adapun aspek perkembangan sebagai berikut:
          
PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR
         Perkembangan gerak motorik anak sendiri, sebagaimana dibedahkan Elizabeth B. Hurlock, seorang psikolog perkembangan dan pemerhati masalah anak merupakan perkembangan pergerakan jasmaniah melalui kegiatan saraf, urat, dan oto yang terkoordinasi. Aspek atau gerak motorik kasar, merupakan gerak anggota badan secara kasar, atau setidaknya dilakukan dengan gerakan-gerakan yang agak keras. Misalnya berjalan, naik turun tangga, melempar, dan menangkap bola yang disodorkan kepadanya.
         Saat berusia 3 tahun, anak menikmati gerakan sederhana, seperti loncat-loncatan, melompat, dan lari kesana-kemari hanya demi kesenangan murni melakukan aktivitas tersebut. Aktivitas berlari-melompat ini tidak akan mendapat medali, tetapi bagi anak berusia 3 tahun, aktivitas tersebut merupakan sumber kebanggaan.
         Saat berusia 4 tahun, anak masih menikmati aktivitas yang sama, tetapi mereka menjadi lebih suka berpetualang. Mereka memanjat dengan tangkas dan menunjukkan kemampuan atletis mereka yang luar biasa. Meskipun mereka sudah lama mampu memanjat tangga dengan satu kaki disetiap anak tangga, mereka baru mampu menuruni tangga dengan cara yang sama.
         Di usia 5 tahun, anak semakin menyukai petualangan dibandingkan ketika mereka berusia 4 tahun. Bukanlah hal yang luar biasa bagi anak umur 5 tahun yang percaya diri untuk melakukan adegan yang menakutkan, mereka berlari cepat dan menyenangi balapan satu sama lain dan dengan orang tua.

PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS
         Adapun perkembangan gerak motorik halus sendiri adalah meningkatnya pengoordinasian gerak tubuh yang melibatkan kelompok otot dan saraf yang lebih kecil. Keterampilan motorik halus melibatkan gerakan yang diatur secara halus. Kelompok otot dan saraf inilah yang nantinya mampu mengembangkan gerak motorik halus seperti merobek, menggambar, dan menulis.
         Pada usia 3 tahun, anak telah memiliki kemampuan untuk mengambil objek terkecil diantara ibu jari dan telunjuk untuk beberapa waktu. Di usia ini anak dapat membangun menara balok yang tinggi, selain itu mereka mulai dapat bermain dengan gambar bongkar pasang sederhana dan memasangkannya ditempat yang kososng dengan menekannya dengan kuat.
         Pada usia 4 tahun, koordinasi motorik halus anak lebih tepat. Kadang anak berumur 4 tahun bermasalah dalam membangun menara tinggi dengan balok karena, dengan keinginan mereka untuk meletakkan setiap balok dengan sempurna, mereka membongkar lagi balok yang sudah tersusun.
         Saat berusia 5 tahun, koordinasi motorik halus anak semakin meningkat. Tangan, lengan, dan jari semua bergerak bersama dibawah perintah mata. Menara sederhana tidak lagi menarik minat anak, yang sekarang ingin membangun sebuah rumah atau gereja, lengkap dengan menaranya.

BAHASA
         Bahasa adalah suatu sistem simbol yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pada manusia bahasa ditandai oleh daya cipta yang tidak pernah habis dan adanya suatu sistem aturan. Bahasa terdiri dari kata-kata yang digunakan oleh masyarakat beserta aturan-aturan untuk menyusun berbagai variasi dan mengkombinasikannya. (Santrock, 2007)
         Bahasa ditata dan diorganisasikan dengan sangat baik (Berko Gleason, 2005). Organisasi tersebut melibatkan lima sistem aturan fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan pragmatik.
         Perubahan-perubahan dalam paragmatik juga mencirikan perkembangan bahasa anak-anak yang belia ini (Brayant, 2005). Perkembangan-perkembangan paragmatik yang terjadi selama tahun-tahun prasekolah sebagai berikut :
         Pada usia 3 tahun, anak-anak mengembangkan kemampuan untuk berbicara tentang hal-hal yang secara fisik tidak ada, mereka mengembangkan penguasaan mereka atas aspek bahasa, yang dikenal sebagai pemindahan (displacement), dan menghidupkan imajinasi mereka.
         Anak-anak usia 4-5 tahun mengembangkan kepekaan besar terhadap kebutuhan orang lain dalam percakapan dengan mengubah pola percakapan mereka sesuai situasi. Mereka mebedakan cara berbicara antara dengan teman sebaya dan dengan orang yang lebih dewasa, dengan menggunakan bahasa formal dan lebih sopan.
         Suatu ringkasan tentang tonggak sejarah perkembangan dalam bahasa diklasifikasikan oleh Roger Browm (1973) sebagai berikut :
         Tahap usia 35-40 bulan atau sekitar 3-4 tahun memiliki karakteristik yang mana anak mampu untuk meletakkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain, seperti “Ini mobil yang ibu beli untukku”.
         Tahap usia 41-46 bulan atau sekitar 4-5 tahun, jumlah rata-rata per kalimat adalah 3,75-4,50 dan sudah mampu mengoordinasikan antara kalimat-kalimat sederhana dan hubungan-hubungan proporsional, seperti “Jerry dan Cindy itu saudara”.

SOCIAL DAN MORAL
         Perkembangan dalam aspek moral adalah perubahan-perubahan yang dialami seseorang menuju tingkat kedewasaan yang berlangsung yang menyangkut pertambahan pengetahuan seorang anak mengenai baik dan buruk. Perkembangan moral seseorang berkaitan erat dengan perkembangan sosial anak.
         Robert J. Havighurst telah membagi tahap perkembangan moral seseorang kedalam empat tahap, tahap perkembangan moral yang terjadi pada usia pra sekolah yaitu anak belum dapat menafsirkan hal-hal yang tersirat dari sebuah perbuatan, antara perbuatan disengaja atau tidak, anak belum mengetahui, yang ia nilai hanyalah kenyataannya.
         Namun demikian, sebagian ahli berpendapat bahwa masalah moral akan muncul manakalaterjadi suatu pertentangan ataupun konflik mengenai persoalan tujuan, rencana, hasrat, keinginan, serta harapan manusia.
         Ketika anak-anak berhadapan dengan pertentangan yang dikemukakan diatas, proses yang mereka lakukan dalam menyelesaikan masalah permasalahan moral dapay untuk memotivasi agar memeperhatikan kepentingan orang lain dan kecendrungan untuk merasa tidak senang manakala mereka tidak memperhatikan kepentingan orang lain.
EMOSIONAL
         Emosi merupakan perasaan yang merupakan perpaduan gejolak fisiologis dan perilaku yang terlibat didalamnya. Kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan adalah diantara jenis bagian yang melingkupi emosi ini. Oleh karena itu, semua hal yang bersumber pada emosi harus diperhatikan karena jika tidak bisa melahirkan masalah besar.
         Pada awal pertumbuhannya, seorang anak belum memiliki reaksi emosional terhadap objek yang bersifat abstrak, seperti mencintai keindahan, kejujuran, kebenaran, etika, dan estetika sebagaimana yang dimiliki oleh orang dewasa.
         Anak usia pra sekolah pun akan memiliki bahasa tubuh yang khas dalam merefleksikan emosinya bila sedang marah, sedih, atau bahagia. Meski demikian kondisi tiap-tiap anak berbeda satu sama lain.
         Menurut Dadang Hawari perbedaan emosi antar anak satu dengan yang lain dipengaruhi sikap, cara, dan kepribadian orang tua dalam memelihara, mengasuh, dan mendidik anaknya. Dalam paradigma yang lain ada factor lain diluar anak yang mempengaruhi perbedaan tersebut, salah satu yang mendasar adalah lingkungan dimana anak itu tinggal.

Daftar Kuesioner KPAP
No
Perilaku Anak
Tidak terdapat
Kadang2 Terdapat
Sering Terdapat
1

2
3
4
5
6
7
8
9
10

11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

23
24
25
26
27
28
29
30
Tidak bias duduk diam, lari-lari atau loncat-loncat
Tidak bias tenang , gugup atau gelisah
Merusak barang ( milik sendiri atau orang lain )
Berkelahi dengan anak lain
Tidak disukai anak lain ( dijauhi anak lain )
Khawatir mengenai banyak hal
Lebih suka bekerja atau main sendiri
Mudah tersinggung dan cepat marah
Tampak murung, sedih dan tertekan
Terdapat gerakan-gerakan yang tak terkendali (tik) pada wajah dan badan
Menggigit kuku atau jari
Tidak menurut ketika disuruh
Sukar memusatkan perhatian dan konsentrasi
Takut menghadapi situasi atau barang baru
Rewel atau banyak menuntut
Berbohong
Ngompol atau berak di celana
Suka mengganggu anak lain
Tak ada perhatian pada lingkungan
Suka mengganggu anak lain
Tak ada perhatian pada lingkungan
Tidak mau meminjamkan/memberikan mainan kepada anak lain
Mudah menangis (cengeng)
Menyalahkan orang lain
Mudah putus asa
Tidak memperhatikan kepentingan orang lain
Terdapat gangguan perilaku seksual
Suka menyakiti anak lain
Suka melamun
Orang tua menganggap anak mengalami perilaku






Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar