Jumat, 01 Juni 2012

Pendamping Persalinan



ASKEB II
PENDAMPING SELAMA PROSES PERSALINAN



Disusun Oleh:
Tiya Arisma/2010.1216



AKADEMI KEBIDANAN SITI KHODIJAH MUHAMMADIYAH
SEPANJANG - SIDOARJO
2011/2012


PENDAMPING SELAMA PROSES PERSALINAN

A. PENDAHULUAN
Latar belakang
Asuhan sayang ibu merupakan asuhan dengan prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu. Cara yang paling mudah untuk membayangkan asuhan sayang ibu adalah dengan menanyakan pada diri kita sendiri,”Seperti inikah asuhan yang ingin saya dapatkan?”atau “Apakah asuhan seperti ini yang saya inginkan untuk keluarga saya yang sedang hamil?” (DepKes RI, 2004).
Salah satu prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik proses persalinan dan asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman dan keluaran yang lebih baik (Enkin,et al, 2000). Antara lain juga disebutkan bahwa asuhan tersebut dapat mengurangi jumlah persalinan dengan tindakan seperti ekstraksi vacum, cunam dan seksio cesarea. Persalinan juga akan berlangsung lebih cepat. (Enkin, et al, 2000).
Dukungan dalam persalinan seperti pujian, penentraman hati, tidakkan untuk meningkatkan kenyamanan ibu, kontak fisik, penjelesan tentang yang terjadi selama persalinan dan kelahiran serta sikap ramah yang konstan. Tugas-tugas tersebut dapat dipenuhi oleh bidan. Namun, pada praktiknya bidan juga harus melakukan prosedur medis yang dapat mengalihkan perhatian mereka dari ibu. (Nike Badhi Subeki, SKp, 2003). Dalam hal ini, seorang wanita yang bersalin harus ditemani oleh orang yang ia percayai dan membuatnya merasa nyaman. Orang tersebut dapat berupa pasangannya, sahabatnya atau anggota keluarganya.
Di negara maju, wanita yang bersalin sering merasa terisolasi di dalam ruangan bersalin di RS besar yang dikelilingi oleh peralatan teknis serta tanpa dukungan dari pasangan atau anggota keluarganya. (Nike Badhi Subeki, SKp, 2003). Di negara berkembang, beberapa RS besar terlalu dipadati oleh persalinan resiko rendah sehingga dukungan personal dan privasi tidak dapat diberikan. Di Indonesia, tidak semua RS mengizinkan suami atau anggota keluarga lainnya menemani ibu di ruang bersalin. Hampir seluruh persalinan berlangsung tanpa didamping oleh suami atau anggota keluarga lainnya.
Pendamping persalinan hanya dapat dihadirkan jika ibu bersalin di beberapa RS swasta, rumah dokter praktik swasta atau bidan praktik swasta. Dalam hal ini ibu bebas memilih siapa saja yang ia inginkan.


B. PEMBAHASAN
Pendampingan
Pendampingan adalah perbuatan mendampingi, menemani dan menyertai dalam suka dan duka (Depdiknas, 2001). Keluarga adalah dua individu atau lebih yang tergabung menjadi satu hubungan darah, hubungan perkawinan, hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi serta mempertahankan kebudayaan (Effendy, 1998).

Dukungan pendampingan persalinan
Menurut Marshall (2000) menyebutkan bahwa dukungan pada persalinan dapat dibagi menjadi dua yaitu :
  1. Dukungan fisik adalah dukungan lansung berupa pertolongan lansung yang diberikan oleh keluarga atau suami kepada ibu bersalin.
  2. Dukungan emosional adalah dukungan berupa kehangatan, kepedulian maupun ungkapan empati yang akan menimbulkan keyakinan bahwa ibu merasa dicintai dan diperhatikan oleh suami, yang pada akhirnya dapat berpengaruh kepada keberhasilan.
Persalinan adalah saat menegangkan dan menggugah emosi bagi ibu dan keluarga. Persalinan menjadii saat yang menyakitkan dan menakutkan bagi ibu, karena itu pastikan bahwa setiap ibu mendapatkan asuhan sayang ibu selama persalinan dan kelahiran. Asuhan ibu yang dimaksud berupa dukungan emosional dari suami dan anggota keluarga lain untuk berada di samping ibu selama proses persalinan dan kelahiran.
 Suami dianjurkan untuk melakukan peran aktif dalam mendukung ibu dan mengidentifikasi langkah-langkah yang mungkin untuk kenyamanan ibu. Hargai keinginan ibu untuk menghadirkan teman atau saudara untuk menemaninya (Depkes RI,2002). Dukungan suami dalam proses persalinan akan memberi efek pada sistem limbic ibu yaitu dalam hal emosi, emosi ibu yang tenang akan menyebabkan sel-sel neuronnya mensekresi hormon oksitosin yang reaksinya akan menyebabkan kontraktilitas uterus pada akhir kehamilan untuk mengeluarkan bayi (Guyton, 1997).

Faktor-faktor yang mempengaruhi peran pendamping persalinan
Menurut Hamilton (1995) faktor-faktor yang mempengaruhi peran pendamping persalinan antara lain sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, pengetahuan, umur dan pendidikan.

Suami sebagai pendamping persalinan
Menurut Lutfiatus Sholihah (2004) selama masa kehamilan, suami juga sudah harus diajak menyiapkan diri menyambut kedatangan sikecil, karena tidak semua suami siap mental untuk menunggui istrinya yang sedang kesakitan. Adakalanya mereka malah panik. Jadi persiapkan dari sekarang, ajak suami membaca buku tentang proses persalinan.
Menurut Dr. Ruth (2002) suami sebagai pendamping persalinan dapat melakukan hal sebagai berikut :
  1. Memberi dorongan semangat yang akan dibutuhkan jika persalinan lebih lama dari yang diperkirakan. Suami sebaiknya diberitahu terlebih dahulu bahwa jika istri berteriak padanya hanya karena sang istri tidak mungkin berteriak pada dokter.
  2. Memijat bagian tubuh, agar anda tidak terlalu tegang atau untuk mengalihkan perhatian istri dari kontraksi. Pukulan perlahan pada perut yang disebut effleurage, dengan menggunakan ujung jari merupakan pijatan yang disarankan
  3. Memastikan istri merasa nyaman dengan menyediakan bantal, air, permen atau potongan es untuk istri atau memanggilkan perawat atau dokter jika istri membutuhkan bantuan.
  4. Memegang istri saat mengedan agar istri memiliki pegangan saat mendorong dan memimpin istri agar mengedan dengan cara yang paling efektif.
Bila suami tidak bersedia mendampingi saat proses persalinan, ibu sebaiknya jangan berkecil hati, mungkin suami tidak tega melihat istrinya kesakitan, jadi jangan paksa suami karena hal ini bisa berakibat fatal. Kehadiran suami tanpa tekanan dari luar, pada proses persalinan akan sangat penting dalam membantu istri terutama jika suami tahu banyak tentang proses melahirkan. Para suami sering mengeluhkan betapa tertekannya mereka kerena sama sekali tidak tahu apa yang harus dikerjakan untuk menolona istrinya. (Lutfiatus Sholihah, 2004:35).
Situasi atau kondisi dimana suami tidak bisa mendampingi selama proses persalinan seperti :
  1. Suami tidak siap mental.
Umumnya, suami tidak tega, lekas panik, saat melihat istri kesakitan atau tidak tahan bila harus malihat darah yang keluar saat persalinan. Tipe suami seperti ini bukanlah orang yang tepat menjadi pendamping diruang bersalin.
  1. Tidak diizinkan pihak RS.
Beberapa RS tidak mengizinkan kehadiran pendamping selain petugas medis bagi ibu yang menjalani proses persalinan, baik normal maupun cesar. Beberapa alasan yang diajukan adalah kehadiran pendamping dapat mengganggu konsentrasi petugas medis yang tengah membantu proses persalinan, tempat yang tidak luas dan kesterilan ruang operasi menjadi berkurang dengan hadirnya orang luar.
  1. Suami sedang dinas
Apabila suami sedang dinas ke tempat yang jauh sehingga tidak memungkinkan pulang untuk menemani istri bersalin tentu istri harus memahami kondisi ini. Walaupun tidak ada suami masih ada anggota keluarga lain seperti ibu yang dapat menemani. Momen persalinan pun dapat difilmkan dalam kamera video, sehingga saat kembali dari dians suami dapat melihat kelahiran buah hatinya.

Namun bagi suami yang siap mental mendapingi istrinya selama proses persalinan dapat memberikan manfaat seperti :
1. Memberi rasa tenang dan penguat psikis pada istri
Suami adalah orang terdekat yang dapat memberikan rasa aman dan tenang yang  diharapkan istri selama proses persalinan. Ditengah kondisi yang tidak nyaman, istri memerlukan pegangan, dukungan dan semangat untuk mengurangi kecemasan dan ketakutannya.
  1. Selalu ada bila dibutuhkan
Dengan berada disamping istri, suami siap membantu apa saja yang dibutuhkan istri.
  1. Kedekatan emosi suami-istri bertambah
Suami akan melihat sendiri perjuangan hidup dan mati sang istri saat melahirkan anak sehingga membuatnya semakin sayang kepada istrinya
  1. Menumbuhkan naluri kebapakan
  2. Suami akan lebih menghargai istri
Melihat pengorbanan istri saat persalinan suami akan dapat lebih menghargai istrinya dan menjaga perilakunya. Karena dia akan mengingat bagaimana besarnya pengorbanan istrinya.

Pendamping lainnya dalam persalinan
Menurut Mary Nolan (2004) beberapa ibu memilih pasangan dan ibunya sendiri untuk menjadi pendamping persalinannya. Ada sebuah penelitian yang sangat baik yang menunjukkan bahwa pendukung wanita efektif dalam meningkatkan hasil persalinan dan membantu calon ibu merasa percaya diri dalm melaksakan tanggungjawab pengasuhan terhadap bayinya.
Meskipun demikian, jika seorang calon ibu memilih pendamping wanita, umumnya mereka adalah anggota keluarganya atau sahabatnya. Sebuah pilihan yang jelas bagi calon ibu adalah ibunya sendiri.






C. PENUTUP

KESIMPULAN
Selama masa kehamilan, suami juga sudah harus diajak menyiapkan diri menyambut kedatangan sikecil, karena tidak semua suami siap mental untuk menunggui istrinya yang sedang kesakitan. Adakalanya mereka malah panik. Jadi persiapkan dari sekarang, ajak suami membaca buku tentang proses persalinan.
Bila suami tidak bersedia mendampingi saat proses persalinan, ibu sebaiknya jangan berkecil hati, mungkin suami tidak tega melihat istrinya kesakitan, jadi jangan paksa suami karena hal ini bisa berakibat fatal. Kehadiran suami tanpa tekanan dari luar, pada proses persalinan akan sangat penting dalam membantu istri terutama jika suami tahu banyak tentang proses melahirkan. Para suami sering mengeluhkan betapa tertekannya mereka kerena sama sekali tidak tahu apa yang harus dikerjakan untuk menolona istrinya.
Situasi atau kondisi dimana suami tidak bisa mendampingi selama proses persalinan seperti suami tidak siap mental, tidak diizinkan pihak RS atau suami sedang dinas. Pada kondisi ini ibu dapat memilih ibunya sendiri untuk menjadi pendamping persalinannya. Ada sebuah penelitian yang sangat baik yang menunjukkan bahwa pendukung wanita efektif dalam meningkatkan hasil persalinan dan membantu calon ibu merasa percaya diri dalm melaksakan tanggungjawab pengasuhan terhadap bayinya.

SARAN
• Selama proses persalinan sebaiknya seorang ibu didampingi oleh suami atau seseorang yang yang dipercayainya.
• Sebaiknya RS yang tidak mengizinkan pendamping berada selama proses persalinan membuat kebijakan tentang hal ini
• Mengingat besarnya manfaat seorang pendamping selama proses persalinan sebaiknya sebelum persalinan ibu sudah memutuskan siapa yang akan mendampinginya nanti selam persalinan.



DAFTAR PUSTAKA

Varney, helen, dkk, 2002. Buku Saku Bidan. Jakarta.EGC
Depkes RI, 2004. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta. Depkes RI.
www.google.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar